Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Kumpulan Pantun

  Pantun : Cinta Cinta yang masih bersinggasana   Bulan dipotong pada sabtu malam Aduhai sinarnya membuat terpana Hai kamu pemuda surau yang wajahnya temaram Aku tidak tahu sampai kapan rasa ini akan bersinggasana   Pantun : Duka Cita Iris daging, Iris hatiku Ibu iris-iris sebilah daging di dapur Darah yang mengalir tidak enggan berhenti Melihat itu hatiku pun terasa diiris-iris tak bisa kabur Karena aku melihat dia sudah Bahagia dengan kekasih baru yang dinanti   Pantun : Agama Shalat, Shalat, Shalat Mati tak bisa hidup melarat Keluh kesahnya malah makin subur Kalau adzan terdengar ya langsung shalat   Bukannya malah berlari dan kabur

Puisi : Influencer Bermunafik Lowclasskiller

                                                    Influencer bermunafik lowclasskiller Manusia manusia bermahkota kekuatan dan pengaruh Tinggal dan beranakpinak di kota yang kusebut keruh Bermahkota pun tidak menjamin mereka berhati Tampilan yang mewah tidak akan pantas disebut sani Mengapa? Apa saya kurang bermandikan harta? Katanya Tidak tuan, anda tidak pantas saya sebut sani karena ada sengkarut alasannya Ingin disebut influencer tapi malah menjadi sindiran halus lowclasskiller Mencari mukalah anda disana, bersikap baiklah sampai dipuja digelari idol youtuber Tapi Ketika kamera itu membelakangimu, kamu injak permohonan bantuan dari tubuh tua nan ringkih Bukan semesta yang memihakmu, malah semesta mengutukmu sampai sean...

Tugas Membuat Puisi : Tema Cinta

  Kuburan yang ditelan, Rumah yang Runtuh Rianti Devi Candra   Kamu tidak tahu berapa windu sudah ku habis ku telan Tentang rindu yang ku tenggelamkan di wajah rembulan Tempat yang dulu ku sebut rumah, kini sudah runtuh Dan sekarang jadilah aku sang tunawisma yang tertatih Tertatih untuk belajar berdiri diatas kuburan hati atas nama kita Tega sekali kamu tuan, sudah terbaring mati dan Ketika aku hampir mati jua Malah kau selamatkan aku dengan memberi nafas terakhir yang sia-sia Tak tahu kah kamu kini aku merupakan puan yang tak bernyawa? Tak tahu kah kamu kini aku perlahan mati berkali-kali? Berlutut di bawah hujan mengadah pada langit untuk sekali saja iba Mencintaimu merupakan resiko purna atas hidup dan matinya hati yang terlahir setia Kamu tidak tahu, puan yang pernah kamu cintai ini dahulunya adalah lidah pembohong yang hebat Tapi sejak bertemu denganmu, karena aku tahu kamulah orangnya. Aku rencakan nubuat Berjanji dan bersumpah di bawah g...